Rabu, 08 Desember 2010

Mencari Kesuksesan Instan












































































Ada dua orang yang tinggal di lantai gedung yang sama di suatu perkampungan. Mereka berdua mempunyai banyak tanaman pot di teras mereka. Satu-satunya yang membedakan adalah tanaman di unit A dimana Tuan Fang tinggal, selalu tumbuh dengan baik. Sedangkan tanaman-tanaman yang nyaris mati ada di unit B dimana Nona Wu menempati. Nona Wu merasa berkecil hati karena telah mengeluarkan banyak uang untuk bunga dan tanaman-tanamannya. Dia telah membeli tanaman pot baru setiap musim, tetapi Tuan Fang hampir tidak pernah membeli tanaman baru dan bahkan sangat jarang pergi ke pasar bunga. Penampilan dari kedua teras mereka begitu kontras. Suatu hari, Nona Wu tidak dapat menahan keinganan tahunya dan mengetuk pintu Tuan Fang untuk meminta saran darinya.
Tuan Fang berkata : “ Saya telah memperhatikan bahwa anda gemar akan bunga dan telah membeli cukup banyak. Anda telah mengeluarkan uang begitu banyak tetapi bunga tidak tumbuh baik seperti yang anda harapkan. Saya memahami kekecewaan anda. Permasalahannya adalah kesalahan dalam cara anda mencintai tanaman-tanaman tersebut, yang ditunjukkan dari pertumbuhan bunga-bunga anda.tersebut.” “ Saya perhatikan anda membeli tanaman bunga setiap bulan dan sementara waktu kemudian anda membuangnya. Tanaman yang anda beli semua dalam keadaan yang sudah mekar dan kemudian anda membuangnya saat mereka semua layu. Lihat!, di teras saya bahkan mempunyai beberapa tanaman yang telah anda buang.”
Tuan Fang melanjutkan: “ Masalah terbesar yang anda miliki adalah anda hanya menyukai tanaman saat mereka berbunga, tetapi tidak untuk bunga yang akan berbunga atau yang akan mati di musimnya. Anda hanya perhatian pada keindahannya.sesaat, tetapi tidak perduli pada masa lalu dan masa depannya.Anda hanya menyiram dan memupuk saat mereka mempunyai bunga, tetapi anda tidak merawatnya ketika mereka membutuhkan air dan perhatian. Hasilnya adalah anda sering mengganti tanaman-tanaman anda. Dengan cara itu, anda hanya dapat menikmati keindahan bunga-bunga dalam waktu yang sangat singkat. Bagaimanapun anda tidak dapat menjaga masa pertumbuhannya yang lama, untuk menjadi lebat.”
Setelah mendengarkan Tuan Fang, Nona Wu telah menyardari kesalahannya. Dari saat itu, dia tidak menunggu lebih lama lagi untuk fokus hanya pada musim bunga saja, dia telah mencurahkan tenaganya untuk memikirkan tanaman-tanamannya. Kurang dari setengah tahun, terasnya menjadi lebat seperti teras Tuan Fang. Di dalam kenyataan, banyak orang yang berpikir seperti Nona Wu. Sebagai contoh, beberapa eksekutif hanya ingin mencuri orang-orang pintar dari perusahaan lain, tetapi mengabaikan lingkungan yang baik bagi karyawannya di perusahaan mereka. Beberapa suami hanya mencintai istrinya saat istri masih muda dan cantik. Beberapa pimpinan klub olah raga memburu pemain-pemain top dari team lain untuk mengganti pemain-pemain biasa. Atau beberapa institut hanya perhatian pada pencapaian tetapi tidak memperhatikan pada prosedur-prosedur dari penelitian tersebut. Ini semua mewakili fenomena tentang hanya mencintai saat musim bunga. Perilaku itu, dimana begitu berhasrat untuk mengharapkan orang-orang meraih kesuksesan dengan cepat, adalah sedang mengendalikan manusia pada “Social Darwinism” Persaingan tidak akan muncul saat ini karena jumlah manusia.sangat banyak, bagaimanapun setelah sepuluh atau dua puluh tahun, ketika kita memasuki suatu masa dimana jumlah masyarakat telah mencapai ambang batas, akan bagaimana jadinya? Jika anda mencintai bunga, anda seharusnya tidak hanya mencintai saat mereka berbunga, tetapi juga saat meraka tidak sedang berbunga dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya untuk itu. Ini adalah prinsip sederhana yang sebaiknya diterapkan untuk memelihara orang-orang yang berbakat. (Erabaru/ran

Mencari ketenangan jiwa dengan berdzikir

Dijaman yang serba materi ini, manusia seringkali terjebak dalam kesibukan yang tidak henti. Kesibukan yang terus bergerak seiring gerak detik jarum jam, detik demi detik terlewati dengan begitu cepat.  Dan pada akhirnya, akan sampai pada suatu titik jenuh, titik dimana semua kesibukan itu serasa membosankan tiada kepalang. Situasi ini bisa saja dialami oleh siapapun tanpa terkecuali, karena memang demikianlah manusia diciptakan (al-Ma’arij 19-20).
Dalam situasi terjepit seperti itu, satu hal yang paling banyak dicari orang, yaitu ketenangan jiwa. Karena dengan jiwa yang tenang, maka semua jalan akan terbuka. Semua kesulitan akan terlepaskan, semua kebosanan akan sirna.Rejeki akan datang berlimpah, yang datangnya saja tidak bisa diperkirakan sumbernya (An-Nahl 112).
Salah satu cara yang direkomendasikan oleh Al-Qur’an untuk mendapatkan ketenangan jiwa ini, adalah dengan berdzikir kepada Allah SWT (Al Ra’d 28).
Berdzikir bukanlah pekerjaan yang sulit, hampir semua manusia bisa melakukannya kapan dan dimana saja. Setidaknya ada dua macam cara berdzikir ini, yakni berdzikir secara rahasia (dzikir sirry) dan berdzikir secara terang-terangan (dzikir jahry).
Dzikir Sirry biasanya dilakukan dengan ritual-ritual dan doa tertentu, yang kemudian lebih dikenal sebutan Thariqah. Sedangkan dzikir jahry, adalah segala bentuk prilaku dan bacaan yang bisa mengingatkan manusa kepada Penciptanya. Pendek kata, dzikir jahry adalah segala bentuk kebaikan yang biasa dilakukan oleh manusi yang nantinya bisa mengingatkan manusia itu siapa dirinya, dan siapa Penciptanya.
Karena itu siapapun bisa menjalankan dzikir jahry ini, tapi tidak demikian dengan dzikir sirry. Sebab dzikir sirry memiliki ritual, doa, prosedur dan ketentuan tertentu yang harus dijalani oleh seseorang yang akan atau sedang menjalankannya.

Hasil pencarian menuju artikel ini:

ketenangan jiwa|mencari ketenangan jiwa|doa ketenangan hati dan jiwa|doa ketenangan jiwa|cara berdzikir|mencari ketenangan hati dan jiwa|doa untuk ketenangan hati dan jiwa|doa untuk ketenangan jiwa|Cara mencari ketenangan|Mencari ketenangan|rahasia ketenangan hati|mencari ketenangan hati|mencari jiwa yang tenang|cara mencari ketenangan hati|mencari ketenangan hati dengan zikir|artikel ketenangan jiwa|Ketenangan jiwa dan hati|mencari ketenangan hati dalam islam|dimana mencari ketenangan hati?|doa berdzikir|doa ketenangan hati|KETENANGAN JIWA ADALAH|rahasia berdzikir|MENCARI KETENANGAN HIDUP|mencari ketenangan dalam islam|cara mencari ketenangan dalam islam|tenang dengan berdzikir|ketenanganjiwa|doa mencari ketenangan|cara islam untuk mencari jalan keluar|zikir untuk ketenangan jiwa|Doa ketenangan|ketengan jiwa|mendapatkan ketenangan hati|doa meminta ketenangan hati|doa untuk ketenagan jiwa dan hati|Doa Islam ketenangan hati|ketenangan jiwa dalam islam|mencari ketenangan jiwa menurut islam|doa tenang jiwa|rahasia ketenangan jiwa|cara menemukan ketenangan|tips mendapatkan ketenangan jiwa|cara berdzikir dengan mudah|cara berdzikir mencario tuhan|TIPS MENDAPATKAN KETENANGAN HATI|Rahasia ketenangan|cara mencari ketenangan jiwa|mencari ketenagan hati dan jiwa|mencari kekayaan dalam islam dengan zikir|

Mencari Kesempurnaan Hidup Dengan Islam



Mencari Kesempurnaan Hidup Dengan IslamAssalamualaikum Semua Sedikit Cerita Hari Ini Bagi Mengisi Masa Dan Melepaskan Penat Seketika Alhamdulillah Syukur Pada Allah Majlis Kurban Di Surau Serta Tempattempat Lain
Read More | Related Articles

Mutiara Hati Jadikan Kitab Suci Panduan Cari Kesempurnaan HidupJadikan Kitab Suci Panduan Cari Kesempurnaan Hidup Diterjemahkan Dalam Kehidupan Untuk Mencari Kesempurnaan Di Apakah AlQuran Dan Ajarannya Makin Jauh Dengan Umat Islam
Read More | Related Articles

Lingkar O LineaR Muslim Ideal Mencari Kesempurnaan Islam Islam Fundamentalis Hidup Berbahagia Dengan Segala Keketatan Aturan Hidupnya Yang Diklaim Mengikut Kesempurnaan Ajaran Islam Dengan
Read More | Related Articles

Mencari Kemenangan Dengan Acuan AllahSamakah Islam Kita Dengan Islam Rasulullah SAW Serupakah Cara Kita Mencari Kejayaan Menjadi Kayu Ukur Kepada Kesempurnaan Sunnah Nabi SN Masih Hidup Di Masyarakat Islam
Read More | Related Articles

Interpretation 0f Syibarumiz Membaca Kisah2 Insan Yang Memeluk Islam Dapat Aku Simpulkan Hampir Kesemuanya Bermula Dengan Fikir Mereka Tentang Hidup Mencari Kesempurnaan Membawa Manusia Untuk Bertemu Dia
Read More | Related Articles

Mencari Keluarga BahagiaIslam Sentiasa Meminta Kita Mengisi Hidup Dengan Perkaraperkara Yang Berfaedah Sepanjang Masa Mencari Kesempurnaan Dalam Hidup Sebagai Manusia Sifatsifat Kesempurnaan
Read More | Related Articles

Maksud Islam IbnRajab Online Gantikan Dengan Kesempurnaan Di Akhirat Manakala Islam Ia Adalah Suatu Tatacara Dustur Atau Panduan Hidup Yang Bermula Dengan Mencari Mencari Ilmu Bukan Sahaja Dengan
Read More | Related Articles

Kaun Islam Read Free OnlineKeadaan Ini Bertentangan Dengan Kaunseling Islam Yang Mengamalkan Budaya Hidup Islam Yang Berdasarkan Agama Yang Dianuti Dalam Nekad Yang Bertujuan Untuk Mencari Kesempurnaan
Read More | Related Articles

Mutiara Hati Mencari Makna Baru Di Sebalik Peristiwa HijrahGENERASI Muda Islam Perlu Dilengkapkan Dengan Ilmu Dunia Dan Akhirat Nabi Muhammad SAW Perlu Mencari Ruang Dan Ikhlas Mesti Dijadikan Cara Hidup Capai Kesempurnaan Iman
Read More | Related Articles

KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM Razalindas Weblog Maka Apakah Mereka Mencari Agama Yang Lain Kearah Kebaikan Dan Pencapaian Kesempurnaan Hidup Menghayati Islam Sebagai Satu Cara Hidup Yang Lengkap Dengan Itu Negara Islam
Read More | Related Articles

Bermotivasi kuat untuk menjadi diri sendiri?

Beberapa waktu ini saya terus dikejutkan dengan semangat orang-orang muda yang terus menerus membuat saya berdecak kagum. Bagaimana tidak, yang dulunya untuk menjadi CEO rata-rata masyarakat menganggap baru pantas kalau sudah berumur kira-kira 30-45 tahun tapi sekarang banyak juga yang telah mencapai posisi ini dalam usia yang relatif muda … 23-27 tahun.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah hal-hal apakah yang menjadi penyebab munculnya trend baru ini?
Beberapa orang mengatakan mungkin ini memang saatnya untuk orang muda memimpin (otomatis karena ada trend). Orang lain berkata itu kan karena kebetulan orang tua-nya yang mewariskan bisnis/perusahaan/usaha tersebut pada si orang muda tadi… ya secara otomatis dia menjadi pimpinan paling tinggilah (otomatis karena warisan). Tidak mungkin tidak.
Orang lain lagi mengatakan bahwa itu hanya faktor keberuntungan saja (otomatis yang sulit dijelaskan definisi kongkritnya). Namun benarkah demikian adanya?
Yang membuat saya berdecak kagum disini adalah ternyata mereka memang benar-benar muncul bukan karena ke-otomatisan tadi. Tapi merupakan sebuah hasil dari persiapan yang bertemu dengan sebuah kesempatan.
Orang-orang muda ini lahir bukan tanpa sebuah tantangan, namun mereka justru lahir karena ada tantangan yang harus mereka kalahkan. Harus ada sebuah upaya yang mereka lakukan untuk memecahkan masalah yang menghampiri mereka, dan ketika sebuah karakter bertanggung jawab untuk menghadapi masalah ini terbangun kuat dalam diri mereka, maka dalam sebuah kesempatan mereka terlihat sangat terampil dalam memerankan fungsi kepemimpinan ini, yang mungkin pada awal mereka mempraktekkan hal ini tidak ada orang yang menghargai posisi, maupun upaya yang mereka lakukan, namun seiring waktu mereka menjalankan karakter tanggung jawab tersebut pada suatu waktu tertentu mereka dikenal dan dihargai oleh orang yang melihat bagaimana si orang-orang muda ini menjalankan peranannya.
Terkait dengan lahirnya keterampilan kepemimpinan ini adalah bagaimana si orang muda ini memiliki cara pandang yang seimbang terhadap dirinya.
be yourself
Kebanyakan yang saya temukan di lapangan adalah banyaknya orang-orang muda yang memiliki cara pandang yang cenderung negatif terhadap diri mereka sendiri.
Belum-belum sudah mengatakan “Aduh kalau saya diminta untuk melakukan hal tersebut mana saya mampu?”. Yang lain lagi berkata: “Kok bisa hal tanggung jawab seperti ini kamu percayakan ke saya? Lha wong orang tua saya saja tidak yakin terhadap diri saya, kok Anda bisa saya yakin terhadap saya?”.
Ini dia menurut saya salah satu jawaban kenapa hanya beberapa orang yang akhirnya mampu perform sebagai pemimpin muda namun yang lain hanya sebagai orang muda.
Beranikah Anda melihat diri Anda secara seimbang dan positif? Jika Anda berani melakukan hal tersebut maka Anda layak untuk menjadi diri Anda sendiri.
Salam sukses..

Biografi Gus Dur

Biografi Gus Dur
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur. (P003)
Jakarta (ANTARA News) - Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.

Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.

Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau "Sang Penakluk", dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. "Gus" adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren.

Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Akhir 1949, dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Dia belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari.

Gus Dur juga diajarkan membaca buku non Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya untuk memperluas pengetahuannya. Pada April 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pendidikannya berlanjut pada 1954 di Sekolah Menengah Pertama dan tidak naik kelas, tetapi bukan karena persoalan intelektual. Ibunya lalu mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.

Pada 1957, setelah lulus SMP, dia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun).

Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Pada 1963, Wahid menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, namun tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya.

Gus Dur lalu belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, Gus Dur bisa menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970.

Dia pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui di sini. Gus Dur lalu pergi ke Jerman dan Prancis sebelum kembali ke Indonesia pada 1971.

Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

LP3ES mendirikan majalah Prisma di mana Gus Dur menjadi salah satu kontributor utamanya dan sering berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa.

Saat inilah dia memprihatinkan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang ia lihat.

Dia kemudian batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Abdurrahman Wahid meneruskan karirnya sebagai jurnalis, menulis untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima baik dan mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, sehingga dia harus pulang-pergi Jakarta dan Jombang.

Pada 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Pada 1977, dia bergabung di Universitas Hasyim Asyari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, dengan mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi.

Ia lalu diminta berperan aktif menjalankan NU dan ditolaknya. Namun, Gus Dur akhirnya menerima setelah kakeknya, Bisri Syansuri, membujuknya. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih pindah dari Jombang ke Jakarta.

Abdurrahman Wahid mendapat pengalaman politik pertamanya pada pemilihan umum legislatif 1982, saat berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), gabungan empat partai Islam termasuk NU.

Reformasi NU

NU membentuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU.

Pada 2 Mei 1982, para pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan memintanya mengundurkan diri. Namun, pada 6 Mei 1982, Gus Dur menyebut pilihan Idham untuk mundur tidak konstitusionil. Gus Dur mengimbau Idham tidak mundur.

Pada 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan keempat oleh MPR dan mulai mengambil langkah menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara.

Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu ini.

Gus Dur lalu menyimpulkan NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, dia mengundurkan diri dari PPP dan partai politik agar NU fokus pada masalah sosial.

Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur dinominasikan sebagai ketua PBNU dan dia menerimanya dengan syarat mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang akan bekerja di bawahnya.

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto. Penerimaan Wahid terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai pemerintah.

Pada 1987, dia mempertahankan dukungan kepada rezim tersebut dengan mengkritik PPP dalam pemilihan umum legislatif 1987 dan memperkuat Partai Golkar.

Ia menjadi anggota MPR dari Golkar. Meskipun disukai rezim, Gus Dur acap mengkritik pemerintah, diantaranya proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai Bank Dunia.

Ini merenggangkan hubungannya dengan pemerintah dan Suharto.

Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga menandingi sekolah sekular.

Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua PBNU pada Musyawarah Nasional 1989. Saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam pertempuran politik dengan ABRI, berusaha menarik simpati Muslim.

Pada Desember 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk untuk menarik hati intelektual muslim di bawah dukungan Soeharto dan diketuai BJ Habibie.

Pada 1991, beberapa anggota ICMI meminta Gus Dur bergabung, tapi ditolaknya karena dianggap sektarian dan hanya membuat Soeharto kian kuat.

Bahkan pada 1991, Gus Dur melawan ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi, organisasi terdiri dari 45 intelektual dari berbagai komunitas religius dan sosial.

Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan merencanakan acara itu dihadiri paling sedikit satu juta anggota NU.

Soeharto menghalangi acara tersebut dengan memerintahkan polisi mengusir bus berisi anggota NU begitu tiba di Jakarta.

Gus Dur mengirim surat protes kepada Soeharto menyatakan bahwa NU tidak diberi kesempatan menampilkan Islam yang terbuka, adil dan toleran.

Menjelang Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur menominasikan diri untuk masa jabatan ketiga. Kali ini Soeharto menentangnya. Para pendukung Soeharto, seperti Habibie dan Harmoko, berkampanye melawan terpilihnya kembali Gus Dur.

Ketika musyawarah nasional diadakan, tempat pemilihan dijaga ketat ABRI, selain usaha menyuap anggota NU untuk tidak memilihnya. Namun, Gus Dur tetap terpilih sebagai ketua NU priode berikutnya.

Selama masa ini, Gus Dur memulai aliansi politik dengan Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Megawati yang popularitasnya tinggi berencana tetap menekan Soeharto.

Gus Dur menasehati Megawati untuk berhati-hati, tapi Megawati mengacuhkannya sampai dia harus membayar mahal ketika pada Juli 1996 markasnya diambilalih pendukung Ketua PDI dukungan pemerintah, Soerjadi.

Pada November 1996, Gus Dur dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU.

Desember tahun itu juga dia bertemu dengan Amien Rais, anggota ICMI yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Juli 1997 merupakan awal krisis moneter dimana Soeharto mulai kehilangan kendali atas situasi itu. Gus Dur didorong melakukan gerakan reformasi dengan Megawati dan Amien, namun terkena stroke pada Januari 1998.

Pada 19 Mei 1998, Gus Dur, bersama delapan pemimpin komunitas Muslim, dipanggil Soeharto yang memberikan konsep Komite Reformasi usulannya. Gus Dur dan delapan orang itu menolak bergabung dengan Komite Reformasi.

Amien, yang merupakan oposisi Soeharto paling kritis saat itu, tidak menyukai pandangan moderat Gus Dur terhadap Soeharto. Namun, Soeharto kemudian mundur pada 21 Mei 1998. Wakil Presiden Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto.

Salah satu dampak jatuhnya Soeharto adalah lahirnya partai politik baru, dan pada Juni 1998, komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru.

Baru pada Juli 1998 Gus Dur menanggapi ide itu karena mendirikan partai politik adalah satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Partai itu adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya.

Pemilu April 1999, PKB memenangkan 12% suara dengan PDIP memenangkan 33% suara. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya 313 suara.

Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur.

Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin-pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.

Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM.

Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.

Ia juga berusaha membuka hubungan diplomatik dengan Israel, sementara dia juga menjadi tokoh pertama yang mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik.

Muncul dua skandal pada tahun 2000, yaitu skandal Buloggate dan Bruneigate, yang kemudian menjatuhkannya.

Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.

Pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri.

Pada Pemilu April 2004, PKB memperoleh 10.6% suara dan memilih Wahid sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis dan KPU menolak memasukannya sebagai kandidat.

Gus Dur lalu mendukung Solahuddin yang merupakan pasangan Wiranto. Pada 5 Juli 2004, Wiranto dan Solahuddin kalah dalam pemilu. Di Pilpres putaran dua antara pasangan Yudhoyono-Kalla dengan Megawati-Muzadi, Gus Dur golput.

Agustus 2005, Gus Dur, dalam Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu bersama Try Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama dalam soal pencabutan subsidi BBM.

Kehidupan pribadi

Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Yenny aktif berpolitik di PKB dan saat ini adalah Direktur The Wahid Institute.

Gus Dur wafat, hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, diantarnya jantung dan gangguan ginjal yang dideritanya sejak lama.

Sebelum wafat dia harus menjalani cuci darah rutin. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta ia sempat dirawat di Surabaya usai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.

Penghargaan

Pada 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial.

Dia ditahbiskan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004.

Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM.

Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas.

Dia juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Gus Dur memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan, yaitu:

- Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)

- Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)

- Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)

- Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)

- Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)

- Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)

- Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)

- Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)
 Biografi terbesar dalam sejarah indonesia


Karya Harry Poeze yang judulnya berarti Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 sungguh luar biasa dari segi kuantitas dan kualitas. Terdiri atas tiga jilid setebal 2.194 halaman, buku ini bukan saja menggunakan dokumen Indonesia dan Belanda, tetapi juga arsip Rusia. Ini merupakan biografi terbesar dalam sejarah modern Indonesia.
Kalau dihitung total halaman, tulisan Poeze mengenai Tan Malaka menjadi lebih dari 3.000 halaman. Pejuang antikolonialisme Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. Ia menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli. Penindasan terhadap buruh menyebabkan ia berhenti dan pindah ke Jawa tahun 1921. Ia mendirikan sekolah di Semarang dan kemudian di Bandung.
Buku Madilog, misalnya, disusun dengan membaca literatur di perpustakaan nasional Jakarta dan membandingkan dengan pengalamannya sendiri berpuluh tahun di mancanegara. Ia tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, Kanton, April 1925 dan dicetak ulang di Tokyo, Desember 1925).
Walaupun bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun; pada saat yang sama partai-partai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati. PARI dianggap berbahaya oleh intel Belanda dan aktivisnya diburu. Selama satu dekade PARI mengembangkan sel mereka di kota-kota penting dan di daerah seperti Cepu, Wonogiri, Kediri, Sungai Gerong, Palembang, Medan, Banjarmasin, dan Riau. Perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua telah diuraikan secara rinci dalam dua jilid biografi yang ditulis Poeze.
Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.
Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda. Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.


























Biografi   Albert  Einstein
Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis". Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan jenius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia. Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Orang Abad Ini" oleh majalah Time. Kepopulerannya juga membuat nama "Einstein" digunakan secara luas dalam iklan dan barang dagangan lain, dan akhirnya "Albert Einstein" didaftarkan sebagai merk dagang. Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.
Biografi

1. Masa muda dan universitas
Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola. Pada umur lima, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya).
Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme. Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika. Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari Munich ke Pavia, Italia (dekat Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia. Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur;j dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.
Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Maric, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negar Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.
2. Kerja dan Gelar Doktor

Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss dalah tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengatahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka. Einstein menikahi Mileva pada 6 Januari 1903. Pernikahan Einstein dengan Mileva, seorang matematikawan, adalah pendamping pribadi dan kepandaian; Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") dalam tahun 1905 dari Universitas Zürich.
Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek fotoelektrik, dan relativitas spesial) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade. Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein di tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.
3. Gerakan Brownian

Di artikel pertamanya di tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setlah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial. Sebelum thesis ini, atom dikenal sebagai konsep yang berguan, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan sengit apakah atom benar suatu benda yang nyata. Diskusi statistik Einstein tentang kelakuan atom memberikan pelaku eksperimen sebuah cara untuk menghitung atom hanya dengan melihat melalui mikroskop biasa. Wilhelm Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahu Arnold Sommerfeld bahwa ia telah berkonversi kepada penjelasan komplit Einstein tentang gerakan Brownian.